I'm nothing, this post mean nothing, a lot of thing means nothing. You all can mean nothing.
Saturday, November 9, 2013
Tuesday, October 15, 2013
Perbincangan Non-Jaim
Kemarin tanggal 14 Oktober 2013, saya pergi ke wisata telaga warna Rambut Monte di Kab. Blitar bersama teman wanita yang baru 5x ini ketemu dan jalan bareng. Dia adalah teman grup chatting saya beberapa bulan yang lalu. Pada saat ketemuan siang harinya planning sih sebenarnya mau nonton film barunya si Raditya Dika, tapi destinasinya malah ke wisata telaga tadi. Perjalanan kami tempuh sekitar ± 2 jam dari Tulungagung ke Blitar (belum termasuk tanya2 orang).
Sepanjang perjalanan banyak sekali obrolan2 yang seru dan menarik. Topik ini lah itu lah tanpa ada batasan gengsi mau jujur, seolah2 kami kenal akrab sudah bertahun2. Beberapa obrolan menyinggung tentang kondisi terkini masing2, cerita masa lalu masing2, kejadian2 yang dialami akhir2 ini, dan pemikiran2 kedepan dari kami yang secara blak2an kami tuturkan. Serasa cepat waktu perjalanan dari Tulungagung ke Blitar gara2 obrolan kami yang seolah tak berjeda.
Setelah sampai di tempat tujuan, perbincangan dan canda tawa pun berlanjut. Sempat ada sesi foto2 juga, sekedar mengabadikan momen2 selama disitu. Sempat dianya nerima telepon dari beberapa orang yang juga mungkin sedang dekat/mendekati dia. Ya saya sih enjoy2 aja selama itu tak mengganggu saya, saya ambil santai saja. Toh posisi saya disini juga bukan apa2 dia, tak lebih dari teman dekat saja. Kenyamanan tercipta saat kami mengungkapkan argumen2, pandangan2, anggapan2, yang berkaitan dengan perasaan dan masa depan. Topik yang cukup serius sih, melihat kondisi kami berduaan dan tanpa status berpasangan. Haha namun kami membungkusnya dengan candaan2 ringan sembari menikmati ikan2 berenang dan gelombang air telaga yang sangat bagus dan menenangkan.
Banyak hal yang kami debatkan, kami bahas, dan kami kritisi. Hal2 yang menurut saya kurang lazim diungkapkan dengan lawan jenis apalagi bukan pasangan. Namun kami bahas hal2 tersebut dengan pola pikir kami masing2. Alhasil tak ada keraguan untuk mengeluarkan unek2 yang mungkin selama ini tak pernah keluar dari angan2, karena kami berkomitmen untuk jadi diri sendiri2 dan menyingkirkan rasa jaim dari diri masing2.
Dan itu yang membuat kami sering meluapkan tawa2 canda. INDAHNYA KETERBUKAAN dan KETIDAK-JAIMAN.
Wednesday, September 18, 2013
Hindari "Perang Ego"
Pagi... Kawan2 readers, akhirnya bisa posting lagi nih. Udah lama saya tinggalin ternyata masih ada juga viewer2 baru... Haha Masih dengan saya nih yang punya blog, ya iyalah siapa lagi? :P kali ini saya pengen bagi isi otak aja sama kalian, tentang pasangan dan usianya. Bukan apa2 sih cuma pas kepikiran aja, dari pada gak di share malah jadi kanker otak (naudzubillah...) haha mending dipostingin di sini, ya kan ya kan?
Saya mau bilang kalau usia pasangan itu juga faktor penting buat kelanggengan hubungan kita. Gak percaya? Bisa kalian teliti sendiri deh, ketika seseorang berpasangan dengan yang seusia, maka tingkat kebosanan dan intensitas cek-cok akan meningkat. Bagaimana tidak, ketika suatu pasangan mengalami perbedaan prinsip dan kematangan pola pikir maka ego mereka akan keluar dan saling ingin membenarkan diri. Nah pada saat itu pasti muncul rasa tidak nyaman dan hasrat ingin menguasai satu sama lain. Meskipun memang tidak semua pasangan yang usianya sama mengalami "perang ego" seperti yang saya bilang tadi, tapi memang kebanyakan mengalami itu. Tergantung dari bagaimana sifat dan karakter masing2 dari mereka.
Maka dari itu untuk mencegah terjadinya hal2 tersebut, saya menyarankan untuk kembali memikirkan jarak usia kalian dengan pasangan kalian. Ya paling tidak laki2 harus lebih tua dari perempuan (jangan jauh2 juga jaraknya), dengan begitu nanti kedewasaan laki2 lah yang akan menuntun perempuan ke arah kebersamaan dan kenyamanan ke depannya. Bukan menguasai si perempuan juga sih, tapi kan memang laki2 dianugerahi kekuatan untuk melindungi dan memberikan kenyamanan kepada perempuan. Yaa seiring jalannya hubungan berpasangan nanti kan pasti ada kesepakatan2 untuk menyikapi berbagai hal yang dihadapi bersama, nah pada saat itulah harus muncul rasa saling mengerti dan saling menghargai pendapat pasangan.
Toh Pemerintah juga memberikan pesan2 bahwa usia pasangan yang baik adalah laki2 lebih tua dari perempuan. Iklan layanan masyarakatnya kan kalau menikah, laki2 usia 25th dan perempuan usia 21th. Sudah jelas hal tersebut memiliki alasan yang cukup jelas dan berdampak baik kedepannya. Pikirkan lagi ya kalau mau mencari pasangan... Supaya tidak terjadi "perang ego" (pengalaman penulis << hust jangan keras2).
"Keep distance to make a beautiful bridge, not to make a different part but that can make a smooth way to reach calmness"
(Iforsameda-2013)
Monday, July 22, 2013
Memiliki, Dimiliki, Kehilangan dan Mensyukuri
MEMILIKI, pasangan (dulunya) dan akhirnya kini hanya menjadi sebuah pengalaman dari kisah berkasih dengan lawan jenis menjadikan diri ini cukup mampu menikmati kesendirian. Karena hati dan perasaan sudah cukup mampu menikmati sisa2 kebahagiaan dari apa yang dulu pernah dirasakan. "Memiliki" sesuatu yang mungkin dan terbukti sekarang telah menjadi milik orang lain (yang mungkin lebih tepat / sesuai pada saatnya).
DIMILIKI, oleh seseorang (dulunya) juga merupakan suatu kebanggaan. Dengan menjadi bagian dari tawa, canda, duka, dan bahagianya seorang yang mencintai kita, kita merasa bertanggung jawab menjaga kepercayaan atas perasaan dan harapannya. Namun apalah arti sebuah tanggung jawab jika ujungnya seseorang itu memilih orang lain untuk "dimiliki" dan bukan kita lagi, itu membuat kita semakin tau apa yang sebenarnya seseorang itu ingini. Ia tidak menginginkan kita menjadi masa depannya melainkan menginginkan kita menjadi masa lalunya.
KEHILANGAN, seseorang yang kita sayangi (kekasih), bukanlah akhir dari kebahagiaan. Tapi cuma jeda dari rasa puas, nikmat, kesenangan dan kebahagiaan selama ini. Suatu saat 'jeda' itu pasti akan usai dan berganti 'mulai' dengan sesuatu yang lain yang mungkin bisa lebih dari yang kemarin atau paling tidak berbeda dan memiliki kesan baru.
MENSYUKURI, segala yang pernah dan sedang kita miliki, segala yang pernah dan sedang kita alami, semua itu adalah anugerah yang paling indah jika kita menyadari dan mengikhlaskannya. Yakin saja dengan kekuatan Tuhan yang Maha Mengatur segala kebahagiaan sesuai dengan pribadi dan kondisi hamba-Nya.
Pernah "memiliki", "dimiliki", dan "kehilangan", harus membuat kita perlu "mensyukuri" semuanya dan tetap semangat menatap detik, menit, jam, dan hari selanjutnya. Karena dibalik sebuah rasa syukur tersimpan kekuatan keikhlasan yang menjadikan bahagia datang dengan sendirinya dari dalam diri kita sendiri.
Catatan "Awal Perubahanmu" (Nov' 2012)
Saat itu >> Malang, Rabu 17 oktober 2012 18:49 WIB <<
Hari ini mungkin matahari tetap bersinar dari arah timur, tapi saya merasakan sesuatu yang aneh saat saya bangun. Mulai dari membuka mata dan menarik nafas dalam2, seperti kehilangan sejuknya pagi hari. Ooouuh… saya tahu, ternyata saya terbangun dengan keadaan saya bergantung antara rasa senang dan sedih. Rasa senang karena saya masih hidup dan menikmati segala hal yang dikaruniakan Tuhan terhadap saya. Dan rasa sedih karena saya mengalami masa balik hubungan percintaan, ya dengan kekasih saya lah pastinya.
Belakangan ini banyak keanehan2 yang saya alami, mulai dari kehilangan tempat kost yang sekaligus tempat ternyaman untuk kencan, gak kehilangan juga sih bahasanya tapi memindahkan diri dari sana karena pemilik kost yang sudah tak asik lagi.
Pasca saya move on dari tempat itu
(ceilleee move on…), saya pindah ke
tempat yang gak strategis banget buat berduaan. Sedikit jauh juga dari keramaian dan gak sebebas tempat kost yang dulu. Kekasih saya, saya sebut si Queen nih nunjukin tingkah laku aneh, gak biasanya, mulai dari nyibukin diri, gak mau diajak kencan, sebelum saya pindah kost semua baek2 aja. Malahan masih sering canda2 di kamar bedua. Banyak sih perilaku dia yang aneh, dia jarang bales SMS saya, jarang nunjukin sayang dia ke saya seperti dulu. Seharusnya kalau dia bilang sayang, dibarengin sama perilaku baik dan nyenengin buat saya. Oh iya sebelum pindah kost dia ikut kayak ospek kampus gitu, sibuknya mulai dari situ, saya jarang diperhatiin, jarang kontak, pas butuh2 buat nganterin nyari kebutuhan ospek baru dia kontak saya. Parah banget menurut saya ini… Sampai sekarang dia juga gampang kesinggung kalo diajak bahas perubahan sikap dia. Bingung saya jadinya, ini seperti masa2 pembalasan dia ke saya, dulu pas awal2 dia yang ngebet sama saya. Sekarang dia di posisi atas, dan merasa saya butuhkan. Saya yakin pasti ada sesuatu dibalik semua perubahan dia ini.
Entah itu firasat benar apa saking saya takut dia uddah gak betah sama saya. Kita dulu sering main ke Batu, ngabisin malam di sana, seneng2 di BNS (batu night spectacular), dan ke air terjun Coban Rondo. Tapi sekarang dia udah gak kayak dulu lagi, jangankan ke Batu, suruh nemenin potong rambut aja dia malah nyibukin diri sama temennya. Inget2 dulu pas dia bela2in kesana kemari demi saya, dan sekarang mana?. Saya nggak kinta banyak dari dia, memang saya ngebet ngajak dia ke Batu lagi buat ngabisin waktu sama dia. Sedikit memaksa juga sih, tapi itu demi saya dan saya rasa pantas karena udah lama banget gak kesana. Lagian saya ingin ngembaliin kemesraan setelah beberapa lama dia tinggal saya sibuk kesana kemari. Dia bilang ingin menuju ke yang lebih baik, berarti dia ingin lebih baik gak sama saya. Saya berusaha keras nyindir2 sikap dia akhir2 ini di media sosial, namun hasilnya nihil. Dia malah makin ilfil ke saya, hhuuuuuuhh!! Dengan nyurahin semua di tulisan ini saya berharap beban di hati dan pikiran saya sedikit berkurang.
Apa yang akan terjadi nanti itu urusan nanti, saya hanya manusia yang masih mampu mengeluh dan berusaha. Semoga dibalik semua ini ada berkah dan hikmahnya, karena semua masalah tak akan lepas dari
pelajaran hidup baru. Ini menurut saya curhatan yang bisa menginspirasi pembaca, meskipun sedikit tidak jelas arah tujuannya yang penting adalah saya sedikit lega dengan menyuarakan isi otak saya ke media ini.
“Tak ada yang perlu disesali dengan segala yang pernah terjadi, jika yang telah terjadi itu membuat kita nyaman dan bahagia meskipun di satu pihak saja, teruskan beranggapan positif tentang hal yang pernah terjadi itu”.
“Paling tidak kita bisa menjadi apa yang kita ingin, meskipun memaksa, dari pada kita dipaksa menjadi orang yang sama sekali tidak kita inginkan”.
“Ketika kamu merasa bahagia dengan suatu hal, kebahagiaan itulah yang sebenarnya akan menjadi musuh terbesar kamu disaat kamu kehilangannya, karena yang kamu ingat hanya kebencian kamu merasakan hilangnya kebahagiaan yang pernah membuat kamu bahagia"
"Jadi tetaplah merasa biasa saja saat kamu sebenarnya merasa sangat bahagia, dengan begitu kamu sudah mengurangi ancaman membenci kebahagiaan disaat kamu kehilangannya kelak.”